Monday, December 5, 2016

Sikap Muslim Pada Jokowi

Tiada gading yang tak retak.Tiada manusia yang sempurna kecuali seorg saja, yaitu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam.

Memperhatikan berbagai kejadian belakangan ini, saya berkewajiban mengingatkan saudara saya akan tuntunan agama Islam yang lurus dalam menyikapi suatu permasalahan.

Kasus penistaan Al Qur'an oleh Ahok menyebabkan kegeraman kaum muslimin. Tuntutan penegakan hukum pun datang begitu deras, baik secara nasihat langsung, pelaporan, bahkan aksi demonstrasi berkali-kali dg melibatkan jutaan kaum muslimin. Saya tdk akan membahas masalah demonstrasi, krn akan byk pro-kontra dlm masalah ini. Sy akan membahas tuduhan-tuduhan, makian, celaan, ancaman makar pada pemerintahan Jokowi jika masalah ini tidak diselesaikan dg hasil penjara bagi Ahok.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ
 
"Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya."

[Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151]
Bila seperti itu sabda Rasul, apakah dibenarkan tuduhan, makian, dan ancaman pada pemerintahan Jokowi? Cara intimidasi pada pemerintah ini jelas bertentangan dg ajaran Islam, terlepas dari niat baik pelakunya. Keburukan Jokowi ditelanjangi, namun kebaikannya tidak disebutkan.

Saya akan sebutkan sudut pandang lain terhadap Jokowi sebagai Kepala Pemerintahan yaitu berupa hal positifnya diperbandingkan dg pemimpin lain yg Allah pilih bagi kaum tertentu:

1. Jokowi adalah seorang Muslim, beliau ikut solat bersama kaum muslimin.
2. Jokowi tidak menyuruh rakyat berbuat kemungkaran, seperti Firaun yg menyuruh menyembah dirinya atau Bashar Al Assad presiden Syiria sang penerus Firaun. (Nabi Musa menasehati firaun, tdk diterima, dan beliau pergi dg tidak memerangi, mengancam atau mencaci-maki Firaun)

3. Jokowi tidak melarang umat muslim beribadah. Kajian Islam semarak di masjid-masjid, Rakyat beribadah tanpa terganggu. Tdk seperti Kadafi yg rakyat Libya pd saat itu bersembunyi ke goa-goa hanya utk mendengarkan kajian atau membaca Al Qur'an.

Banyak kenikmatan berupa ketenangan beribadah yg tdk diganggu oleh pemerintahan Jokowi. Ini adalah suatu nikmat yg sangat besar dari Allah pd negeri ini. Namun, byk manusia yg ingkar akan nikmat Allah.

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ -٦-

"Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhan-nya.” [QS. Al-Adiyat 6]

Mencaci maki Jokowi dan pemerintahannya, mengintimidasi, mengancam makar adalah perbuatan kufur nikmat, yg bisa memicu kemurkaan Allah.

Jika Jokowi dicaci maki, diintimidasi, diperangi, atau dilengserkan, bgmn bila Allah ganti dg pemimpin yg jauh lebih zolim lagi sebagai azab atas kufurnya kita pada nikmat Allah?

Saudaraku, jadilah manusia muslim yang pandai bersyukur.. syukurilah nikmat yg anda dapatkan skrg. Jangan tergesa-gesa untuk mendapatkan kebaikan yg banyak dg cara mencampakkan kebaikan yg dianggap sedikit. Bertambahnya kebaikan hanya akan terjadi bilamana kita mensyukuri kebaikan yang ada saat ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yg mau bersyukur.” [QS. Saba’: 13]

Mari kita menjadi kaum yg bersyukur atas pemimpin kita, dg izin-Nya akan datang seorg pemimpin yang lebih baik lagi kelak. Namun jika kita tidak mampu mensyukuri yg ada, yakinlah adzab Allah akan menimpa.

Allah berfirman (yang artinya):

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.” [QS. Ibrahim 14: 7]


Oleh: Abu Ibrahim Al Falimbany
Published: Abu Fatah Ibnu Iman
-----------------------------------------------------
#BelajarIslam di: www.almanhaj.or.id

Tuesday, November 1, 2016

Hukum Haramnya Demonstrasi - Menanggapi Aksi Demo Umat Islam Indonesia

FATWA ULAMA DARI MASJID NABAWI TENTANG PERTANYAAN TERKAIT DEMO TANGGAL 4 NOVEMBER 2016 DI JAKARTA

Fatwa Ulama Besar Ahlus Sunnah, Ahli Hadits Kota Madinah Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad hafizhahullah:

قَالَ: رَئِيْسُ مَدِيْنَةِ جَاكَارْتَا يَسْتَهْزِئُ بِالْقُرْآنِ وَعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَهُوَ نَصْرَانِيٌ، وَفِي رَابِعِ نُوْفِمْبَر: سَتُقَامُ الْمُظَاهَرَةِ لِطَلَبِ الْمَحَاكَمَةِ. هَلْ يَجُوْزُ لَنَا الْخُرُوْجُ؟ عِلَمًا بِأَنَّهُ كَافِرٌ لاَ بَيْعَةَ لَهُ، وَالْمُظَاهَرَةُ يُرَاعَى فِيْهَا الأَدَبُ، وَعَدَمُ إِفْسَادِ الْمَرَافِقِ الْعَامَّةِ.
[قَالَ الشَّيْخُ]: الْمُظَاهَرَاتُ وَالْمُشَارَكَةُ فِيْهَا: غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَلٰكِنْ يَعْمَلُوْنَ مَا يُمْكِنُهُمْ مِنْ غيْرِ الْمُظَاهَرَاتِ؛ يُكْسِبُوْنَ وَيَذْهَبُوْنَ يَعْنِيْ يَذْهَبُ أُنَاسٌ لِمُرَاجَعَةِ الْمَسْؤُوْلِ الأَكْبَرِ...

Penanya berkata: 

Gubernur Kota Jakarta melecehkan Al-Qur’an dan Ulama kaum muslimin, dia seorang Nashrani. Dan pada tanggal 4 November akan diadakan Demonstrasi untuk meminta agar dia dihukum. Bolehkah kita ikut keluar (berdemo)?
Dan untuk diketahui bahwa dia adalah orang kafir, yang tentunya kita tidak wajib untuk membai’atnya. Dan dalam Demonstrasi tersebut akan dijaga adab-adabnya dan tidak ada perusakan terhadap fasilitas-fasilitas umum.


• Fadhilatusy Syaikh menjawab:

“Demonstrasi dan ikut serta di dalamnya: TIDAK DIBENARKAN.
Akan tetapi mereka (kaum muslimin) bisa melakukan usaha dengan (mengutus) beberapa orang untuk pergi menasihati pimpinan terbesar (Presiden).”

[Ditanyakan oleh sebagian Mahasiswa Madinah -yang kami cintai karena Allah-, pada waktu Maghrib, 31 Oktober 2016 M (semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan)]

acc:
Sofyan Chalid bin Idham Ruray
-Abu Fatah ibnu Iman-
══════ ❁✿❁ ══════


RINGKASAN FATWA ‘ULAMA AHLUS SUNNAH TENTANG HARAMNYA DEMONSTRASI*

1. Asy-Syaikh ‘Abdil ‘Azîz Ibnu Bâz rohimahullôh berkata (Mufti Saudi Arabiya):

أُوصِي العُلَمَاءَ وَجَمِيْعَ الدُّعَاةِ وَأَنْصَارَ الحَقِّ أَنْ يَتَجَنَّبُوا المَسِيْرَاتِ *وَالمُظَاهَرَاتِ الَّتِي تَضُرُّ الدَّعْوَةَ وَلَا تَنْفَعُهَا، وَتُسَبِّبُ الفُرقَةَ بَيْنَ المُسْلِمين وَالفِتْنَةُ بَينَ الحُكَّامِ وَالمَحْكُومِيْنَ.*

"Aku wasiatkan untuk segenap para ‘Ulama, seluruh du’at, dan para pembela kebenaran *untuk menjauhinya demontrasi yang dimana hal tersebut memberikan kemudhorotan kepada dakwah serta tidak memberikan manfaat pada dakwah, (Demo) juga menyebabkan perpecahan diantara kaum muslimin dan fitnah diantara penguasa dan rakyat."



2. Asy-Syaikh Muhammad bin Shôlih Al-‘Utsaimîn rohimahullôh mengatakan (Anggota Kibar ‘Ulamâ):

*فَالمُظَاهَرَاتِ كُلُّهَا شَرٌّ، سَوَاءٌ أَذِنَ فِيْهَا الحَاكِمُ أَوْ لَمْ يَأْذَنْ.*

"Semua bentuk Demonstrasi adalah kejelekan, sama saja apakah hal tersebut diidzinkan penguasa maupun tidak.” [Lihat “Liqô Bâb Al-Maftûh” (18/179)]



3. Asy-Syaikh Al-Albâni rohimahullôh mengatakan (Ahli Hadits negeri Syâm):

*أَقُولُ عَنْ هَذِهِ المُظَاهَرَاتِ لَيْسَتْ وَسِيْلَةٌ إِسْلاَمِيَّةٌ* تُنْبِئُ عَنِ الرِّضَا أَو عَدَمِ الرِّضَا مِنَ الشُّعُوبِ المُسْلِمَةِ، لَأَنَّ هُنَاكَ وَسَائِل أُخْرَى بِاستِطَاعَتِهِمْ أَن يَسْلُكُوهَا.

"Aku katakan tentang demonstrasi ini bukanlah wasilah islamiyyah*; yang menggambarkan tentang keridhoan maupun ketidak ridho’an dari rakyat muslim, karena disana masih ada wasilah yang masih mungkin untuk ditempuh dengannya"

Beliau juga berkata:

هَذِهِ التَّظَاهُرَاتُ الأُرُوبِيَّةُ ثُمَّ التَّقْلِيْدِيَّةُ مِنَ المُسلِمِينَ، لَيسَتْ وَسِبْلَةٌ شَرْعِيَّةٌ لِإِصْلاَحِ الحُكْمِ وَبِالتَّالِي إِصْلاِحِ المُجْتَمَعِ.

Demonstrasi ala Eropa ini yang kemudian juga ditiru oleh kaum Muslimin, bukanlah wasilah syar’iyyah untuk  memperbaiki hukum dan masyarakat.


4. Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î rohimahullôh mengatakan (Ahli Hadits negeri Yaman):
*المُظَاهَرَاتُ طَاغُوتِيَّةٌ فِي شَوَارِعِ صَنْعَاء، فَواللهِ لَقَدْ أَهَانُوا الإِسْلاَمَ*.

Demonstrasi adalah thoghút; yang terjadi di jalan-jalan Shon’a, demi Allôh mereka telah menghinakan Islam.” [Lihat “Ghôrotul Asyrithoh” (2/152)]

Beliau rohimahullôh mengatakan:
*المُظَاهَرَاتُ تَقْلِيْدٌ لِأَعْدَاءِ الإِسْلاَمِ*.

“Demonstrasi adalah taqlid terhadap musuh-musuh Islam.” [Lihat “Ghôrotul Asyrithoh” (2/152)]



5. Asy-Syaikh Shôlih Al-Fauzân hafidzohullôh mengatakan (Anggota Lajnah Dâimah dan Kibar ‘Ulama):
فَلَيْسَ الحَلُّ فِي أَنْ تَكُونَ مُظَاهَرَاتٌ أَو اعْتِصَامَاتٌ او تَخْرِيبٌ وَهَذَا لَيْسَ حَلُّ، *هَذَا زِيَادَةُ شَرٍّ* وَلَكِنْ الحَلَّ مُرَاجَعَةُ المَسْؤُليِنَ وَمُنَاصَحَتُهُمْ وَبَيَانُ الوَاجِبِ علَيهِمْ لَعَلَّهُم أَن يُزِيلُوا هَذَا الضَّرَرَ.

Bukanlah jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan dengan demo, unjuk rasa atau aksi anarkis, ini bukanlah solusi. *Bahkan hal itu semakin menambah kejelekan*, akan tetapi solusinya adalah mengingatkan pejabat serta mensaehati mereka dan menjelaskan apa yang menjadi kewajiban mereka untuk menuntaskan masalah ini.” [Dinukil dari “Al-Ajwibah Al-Mufîdah” (soal no.99)]


6. Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbâd hafidzohullôh berkata (Mantan Ketua Jâmi’ah Islamiyyah di Madinah dan Pengajar di Masjid Nabawi):
لاَ أَعْلَمُ فِي الشَّرْعِ يَدُلُّ عَلى جَوَازِ المُظَاهَرَاتِ الَّتِي اسْتَوْرَدَهَا كَثِيْرٌ مِنَ المُسْلِمِيْنَ مِن بِلَادِ الغَرْبِ وَقَلَّدُوهُمْ فِيْهَا.

Aku tidaklah mengetahui dalam syari’at ini yang menunjukkan tentang bolehnya demo yang diambil kebanyakan  kaum muslimin dari negeri barat dan mereka pun meniru hal ini.” 
Beliau juga ditanya:
 هَلْ يُمْكِنُ القَولَ بِأَنَّ المُظَاهَرَاتِ وَالمَسِيْرَاتِ تُعْتَبَرُ مِنَ الخُرُوجِ عَلَى وَلِيِّ الأَمْرِ؟

Apakah mungkin bisa mengatakan bahwa demonstrasi dan turun ke jalan-jalan termasuk dari khuruj (memberontak) kepada waliyul amr?
Beliau menjawab:
لاَ شَكَّ أَنَّهَا مِنْ وَسَائِلِ الخُرُوجِ، بَلْ هِيَ مِنَ الخُروجِ لَا شَكَّ.

Tidaklah diragukan bahwa hal tersebut termasuk dari wasilah khuruj, bahkan itu sendiri adalah khuruj tanpa ada keraguan".

7. Asy-Syaikh Shôlih bin Muhammad Al-Luhaidân hafidzohullôh mengatakan (Anggota Kibar ‘Ulama):
*المُظَاهَرَاتُ إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُ الجَاهِلِيَّةِ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانِ.*

“Demonstrasi sesungguhnya adalah amalan jahiliyyah yang tidaklah Allôh menurunkan hujjah dengannya.”

Beliau juga berkata:
*المُظَاهَرَاتُ وَالمَسِيْرَاتُ لاَ تَصْلُحُ لِنَصُرْةِ الحَقِّ، وَلاَ لِإِذْلَالِ بَاطِلٍ،* وَإِنَّمَا نُصْرَةُ الحَقِّ بِالتَّمَسُّكِ بِالحَقِّ،  وَإِذْلاَلِ البَاطِلِ إِنَّمَا هُوَ بِالقِيَامِ بِتَعْظِيْمِ الحَقِّ وَشَعَائِرِ الدِّيْنِ.

Sesungguhnya Demontrasi dan aksi turun ke jalan bukanlah cara untuk menolong kebenaran dan tidak pula melenyapkan kebathilan, akan tetapi menolong kebenaran itu diwujudkan dengan berpegang teguh dengan alhaq dan melenyapkan kebathilan dengan menegakkan pengagungan kebenaran dan syi’ar-syi’ar agama.” [Jaridah Riyâdh (11/9/1424)] 


8. Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz Ar-Rôjihi hafidzohullôh berkata (Pengajar di Universitas Islamiyyah Imam Muhammad bin Sa’ud):
*المُظَاهَرَاتُ هَذِهِ لَيْسَتْ فِي السُّبُلِ المَشْرُوعَةِ، بَلْ هِيَ مِن أَعْمَالِ غَيْرِ المُسْلِمِينَ، وَمِنْ أَسْبَابِ الفَوضَى وَالإِضْطِرَابَاتِ.*

Demonstrasi ini bukanlah metode yang disyari’atkan, bahkan itu adalah termasuk dari amalannya non muslim, dan (hal tersebut) merupakan sebab kekacauan dan kegaduhan.” [dari “Syarhul Mukhtâr fie Ushûlis Sunnah” (hal.376)]


9. Syaikhuná Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûri hafidzohullôh berkata (‘Ulama Kibar Negeri Yaman):
*المُظَاهَرَاتُ مُحَرَّمَةٌ، وَتَشَبُّهٌ بِالكُفَّارِ.*

Demonstrasi adalah harom, dan tasyabbuh dengan orang-orang kafir.  [Disadur dari rekaman: “Tahdzîr Ahlil Imân wal Hikmah” (menit:04:59)]


Diringkas dari kitab:
“Fatâwâ wa bayânât Kibâr ‘Ulamâ fie Hukmil Mudzôharôt wal I’tishômât wal Idhrôbât” oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrohmân bin Sa’ad Asy-Syatsrî.
Diringkas: Abu Muhammad Fuad Hasan bin Mukiyi.
Republished: Abu Fatah ibnu Iman
------------------------

Monday, August 1, 2016

Sedikit Tentang Mimpi


- Dari Abu Hurairahradhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” 

[HR. Bukhari 7017] 

- Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا، وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

Apabila kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri 3 kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” 

[HR. Bukhari 7044, Muslim 2261, dan yang lainnya]

Note:
- mimpi yg tdk jelas, kabur, berbayang, sulit diingat, maka bisa jadi hanya bisikan hati atau bisa dari syaitan.
- mimpi yg jadi kenyataan dari seseorg yg tdk taat beragama serta msh byk melakukan maksiat, mk ini adlh jg godaan dr syaitan agar org menjadi jumawa, sombong, merasa didukung Allaah pdhl byk maksiat, dan bisa menjerumuskan org ini menjadi semacam dukun/paratidaknormal.
- Seseorg yg menginginkan mimpi yg baik mk ia harus memperbaiki diri dan agamanya.

Wallaahua'lam.
Semoga bermanfaat,

[Abu Fatah Ibnu Iman bin Bakrie bin Derus bin Ruwayen Al Indunisiy.]

Monday, July 11, 2016

Polemik Sayyid / Sayyidina


-Harap Disebar-

Sehubungan dg salah tanggapnya sebagian umat dan ramainya permasalahan ungkapan Sayyid / Sayyidina, maka wajib utk kita sampaikan kalam Rasulullaah mengenai hal ini.. Kembalikanlah ke Allaah Dan Rasul-Nya bila kalian mendapati suatu permasalahan.

1. ‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa/tuan) kami!” Spontan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

"Sayyid (penguasa) kita adalah Allaah Tabaaraka wa Ta’aala"

 Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.

"Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.”
[HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no 211/ Shahiihul Adabil Mufrad no 155), an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rawi-rawi-nya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)]


2. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

"Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allaah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.”
[HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.]


- Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci jika orang-orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti: “Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.” Padahal sesungguhnya beliau adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Dan beliau nyata dan shahih adalah sayyiduna (pemimpin) seluruh manusia di akhirat kelak. Meskipun demikian, beliau melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid. 

Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan ‘aqidah. Dua sifat itu adalah 'Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba dan utusan Allah).

Dari hadits serta penjelasan di atas maka nampak bahwa Rasulullaah tidak suka dirinya dipanggil dg sebutan "Sayyid/sayyidina" ini menunjukkan betapa rendah hati - tawadhu nya beliau shalallahu alaihi wasallam.. Kita sebagai umat yg mengaku mencintai beliau.. Maka..Berikut sabda Rasulullaah: 

"Ada tiga perkara yang menggambarkan kecintaanmu kepada saudaramu: kamu mengucapkan salam kepadanya ketika bertemu dengannya; meluaskan tempat untuknya dalam majelis; memanggilnya dengan panggilan yang paling disukainya." 

[HR al-Hakim dalam Al-Mustadrak]

Panggillah kekasih kita Nabi besar Muhammad Shalallaahu alaihi wasallam dg panggilan yg paling disukainya, yg Allaah sematkan pada dirinya dan beliau ridhoi yaitu: ‘Abdullaah wa Rasuulluhu (hamba dan utusan Allaah).

Oleh:
[Abdillaah, Abu Fatah Ibnu Iman bin Bakrie bin Derus bin Ruwayen Al Indunisiy.]