Monday, December 5, 2016

Sikap Muslim Pada Jokowi

Tiada gading yang tak retak.Tiada manusia yang sempurna kecuali seorg saja, yaitu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam.

Memperhatikan berbagai kejadian belakangan ini, saya berkewajiban mengingatkan saudara saya akan tuntunan agama Islam yang lurus dalam menyikapi suatu permasalahan.

Kasus penistaan Al Qur'an oleh Ahok menyebabkan kegeraman kaum muslimin. Tuntutan penegakan hukum pun datang begitu deras, baik secara nasihat langsung, pelaporan, bahkan aksi demonstrasi berkali-kali dg melibatkan jutaan kaum muslimin. Saya tdk akan membahas masalah demonstrasi, krn akan byk pro-kontra dlm masalah ini. Sy akan membahas tuduhan-tuduhan, makian, celaan, ancaman makar pada pemerintahan Jokowi jika masalah ini tidak diselesaikan dg hasil penjara bagi Ahok.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ
 
"Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya."

[Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151]
Bila seperti itu sabda Rasul, apakah dibenarkan tuduhan, makian, dan ancaman pada pemerintahan Jokowi? Cara intimidasi pada pemerintah ini jelas bertentangan dg ajaran Islam, terlepas dari niat baik pelakunya. Keburukan Jokowi ditelanjangi, namun kebaikannya tidak disebutkan.

Saya akan sebutkan sudut pandang lain terhadap Jokowi sebagai Kepala Pemerintahan yaitu berupa hal positifnya diperbandingkan dg pemimpin lain yg Allah pilih bagi kaum tertentu:

1. Jokowi adalah seorang Muslim, beliau ikut solat bersama kaum muslimin.
2. Jokowi tidak menyuruh rakyat berbuat kemungkaran, seperti Firaun yg menyuruh menyembah dirinya atau Bashar Al Assad presiden Syiria sang penerus Firaun. (Nabi Musa menasehati firaun, tdk diterima, dan beliau pergi dg tidak memerangi, mengancam atau mencaci-maki Firaun)

3. Jokowi tidak melarang umat muslim beribadah. Kajian Islam semarak di masjid-masjid, Rakyat beribadah tanpa terganggu. Tdk seperti Kadafi yg rakyat Libya pd saat itu bersembunyi ke goa-goa hanya utk mendengarkan kajian atau membaca Al Qur'an.

Banyak kenikmatan berupa ketenangan beribadah yg tdk diganggu oleh pemerintahan Jokowi. Ini adalah suatu nikmat yg sangat besar dari Allah pd negeri ini. Namun, byk manusia yg ingkar akan nikmat Allah.

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ -٦-

"Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhan-nya.” [QS. Al-Adiyat 6]

Mencaci maki Jokowi dan pemerintahannya, mengintimidasi, mengancam makar adalah perbuatan kufur nikmat, yg bisa memicu kemurkaan Allah.

Jika Jokowi dicaci maki, diintimidasi, diperangi, atau dilengserkan, bgmn bila Allah ganti dg pemimpin yg jauh lebih zolim lagi sebagai azab atas kufurnya kita pada nikmat Allah?

Saudaraku, jadilah manusia muslim yang pandai bersyukur.. syukurilah nikmat yg anda dapatkan skrg. Jangan tergesa-gesa untuk mendapatkan kebaikan yg banyak dg cara mencampakkan kebaikan yg dianggap sedikit. Bertambahnya kebaikan hanya akan terjadi bilamana kita mensyukuri kebaikan yang ada saat ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yg mau bersyukur.” [QS. Saba’: 13]

Mari kita menjadi kaum yg bersyukur atas pemimpin kita, dg izin-Nya akan datang seorg pemimpin yang lebih baik lagi kelak. Namun jika kita tidak mampu mensyukuri yg ada, yakinlah adzab Allah akan menimpa.

Allah berfirman (yang artinya):

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.” [QS. Ibrahim 14: 7]


Oleh: Abu Ibrahim Al Falimbany
Published: Abu Fatah Ibnu Iman
-----------------------------------------------------
#BelajarIslam di: www.almanhaj.or.id

No comments:

Post a Comment

Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk. (HR. Bukhari dan Al Hakim)